Mengenal Alat Musik Khas Wonosobo, Bundengan

Mengenal Alat Musik Khas Wonosobo, BundenganDua orang penari perempuan dan laki-laki kelihatan asyik memperagakan gerakan demi gerakan dengan lemah gemulai. Lambaian gerakan tubuh kedua penari Lenjeran ini kelihatan sangat asri diiringi dengan bebunyian gamelan.

Melainkan malam itu, tidak ada gamelan yang kelihatan mengiringi dua penari tersebut. Tersebut kelihatan justru dua orang pekerja seni mengenakan pakaian sorjan berwarna coklat khas Yogyakarta. Satu orang di antara mereka kelihatan membelakangi penonton menghadap anyaman bilah bambu cukup besar, sementara seorang lagi kelihatan asyik mendendangkan nyanyian-nyanyian Jawa.

Itulah seni musik Bundengan, alat musik absah Wonosobo Jawa Tengah. Alat musik ini memang sengaja dihadirkan dalam Forum Musik Tembi. Sebuah alat musik yang belum banyak diketahui khalayak umum.

Dua orang pemain Bundengan ini satu persatu menyebutkan apa itu Bundengan. Bukhori, pelantun vokal Bundengan tersebut menuturkan, alat musik ini ada sejak tahun 1930 lalu.

Bundengan sendiri mempunyai beberapa versi arti. Bundengan berasal dari kata Bundeng atau jikalau versi Yogyakarta berarti (bindeng) atau bunyi yang tidak akan terdengar keluar tanpa bantuan alat. Sebab bindeng, karenanya perlu bantuan sound system supaya didengar orang lain.

Bundengan terdiri dari Kerangka yang disebut Kowangan. Kowangan ini terbuat dari bilah bambu yang dianyam nyaris setenga lingkaran. Di bagian luar diberikan pelepah bambu atau clumpring. Format dari Bundengan sesungguhnya mirip dengan hama pohon kelapa di mana di Jawa tak jarang disebut Kuwangwung.

Menurut Bukhori, mulanya Bundengan sesungguhnya berfungsi untuk tudung (payung) penggembala itik dari hujan dan panas. Bentuknya mirip serangga pemakan pelepah pohon kelapa sebab cakap melindungi kepala sampai punggung bagian bawah.

Komponen kepala dihasilkan agak mendongak biar bisa untuk melihat itik-itiknya saat berjalan.

Kemungkinan saat itu, lanjutnya, untuk buang kebosanan, langsung dipasangi dengan Ijuk (serat) di bagian tengahnya. Dan sembari menunggui itik, penggembala itu langsung berupaya memetik ijuk-ijuk tersebut sehingga menghasilkan bebunyian.

Semenjak tahun 2000 lalu, sebab pekerja seni kesusahan menerima ijuk, karenanya mereka langsung menggantinya dengan senar dari raket badminton bekas. Alhasil, alunan musik gamelan yang lengkap membahana dari alat musik ini.

Struktur senar yang ada sebagai substitusi perangkat gamelan seperti kenong, bende, gembul, gong tengahan, gong gede, dan nada kendang seperti tidak tidak tung dang semuanya dihasilkan dari bambu.

Lazimnya Bundengan digunakan untuk mengiringi kesenian Lengger. Melainkan, sesungguhnya bisa untuk mengiringi nyanyian campur sari, rebana, dangdut, ataupun sholawatan.

Walaupun alat simpel, namun perlu teknik khusus untuk memainkannya. Sebab menurut Munir, kedua tangan harus sinkron dan benar-benar menguasai nyanyian lenggeran. Pria asal Dusun Ngabeyan, Desa Maduretno, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo ini memang harus olah rasa lebih-lebih dahulu.

Walaupun sesungguhnya pekerja seni Bundengan ini sangat minim. Melainkan aku bersyukur telah mulai ada regenerasi, sebab ada sekolah yang telah menghasilkan pembelajaran Bundengan sebagai salah satu kesibukan ekstrakurikuler. Sekolah itu merupakan SMP 2 Selomerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *